--gUgUn gUnAwAn--

Seorang Bujangan pengembara jaring waktu sejak mulai bernafas pada 25 Mei entah berapa tahun lalu
Meski hanya baru menapak di Bandung dan Malang namun tak henti berusaha menembus kungkungan jarak dan waktu di balik helai-helai cerita dan jendela maya
Sering tenggelam dalam dunia imajinasi sendiri
Terlelap bersama karakter dalam cerita
Mencoba meneguhkan
eksistensi diri dalam nyata
Sering terlena pada asa yang bergemuruh di dada
Ini hanyalah sepenggal kisah gelap di balik selimut cahaya




Penyayang Anak kecil dan Pemuja Kecantikan wanita
Berjiwa
Romantis setia dan pengertian

sehingga suka film-film komedi romantis
Saat ini masih berstatus pelajar

Selalu memimpikan bisa sukses di masa depan


mail: eyanglenong@yahoo.com
:: Mood ::





LINKS
BLOGDRIVE
TEMPLATES
lyrics


<< March 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




Friday, March 18, 2005
Dreamer


Kita adalah pemimpi. Usang dalam harapan semu. Terbiasa dibuai indah, hingga melupakan kejamnya kenyataan. Tangan-tangan hanya menadah kucuran kehidupan. Tak juga berkehendak menggapai lebih. Ah…hidup bukanlah impian. Hidup adalah perjuangan. Atau justru hidup adalah kekalahan yang tertunda? Kesederhanaan dalam kerumitan.

 

Banyak sudah orang berlari menjemput impian. Susuri labirin hidup, mencari minotaur yang bersembunyi dalam lubang gelapnya. Andaikan Hercules ada di sini. Menemani pembantaian sesosok kelam. Namun panahnya membunuh kekanakan. Nanar sudah pandangan dunia. Dan kita bawa pulang wajah kehampaan bertopeng senyum.

 

Dunia ini mimpi. Letupan-letupan hidup berwujud dalam kesemuannya. Injak injak injak saja bayangan itu. Menepi keraguan terbelah. Terbakar hatiku karenanya. Walau malaikat tertawa terbahak. Kapan senjakala berhenti? Memerah hingga menghitam. Mimpi ini adalah kegelisahan. Seperti halnya kerisauanku. Layaknya pertanyaan akan kehidupan.

 

Tak salah mimpi ini kurangkai. Namun gelora semestinya memudar. Apa hanya mimpi yang tertawarkan? Ketika mati memberikan beku cuma-cuma. Relativitas waktu menghantam. Berlalu begitu cepat. Mimpi-mimpi berserak. Nyata tak terengkuh. Kesadaranku terlelap. Dibuai pelangi bersulam bintang. Dihantam tawa tertusuk pedih.

 

Sesaat keterbangunan menggodaku. Untuk membuka mata. Melihat tetes demi tetes kenang. Tak. Biarkan saja kenang itu dalam mimpi. Terapung. Hidup telah lenyap. Hidup sudah usai.

 

Aku adalah pemimpi. Terus bermimpi. Tak hendak terbangun.

Posted at 11:47 am by gUgUn
Monday, March 14, 2005
Sembilu


Kecewaku menggila

Ada ambigu di sini

Labil dan goyah

Ledakkan kegetiran kelam

Bilakah ku terpuruk?

Sementara tanganmu tak jadi terulur

Terperangkap dalam jejaring hidup

Lepaskan belenggu ini!

Keniscayaan yang pudar

Seperti halnya genggaman tangan yang nyaris terlepas

Kita lewati hari dalam bayangan keabadian

Sendirikah kita?

Aku tak tahu

Sungguh

Aku tak tahu

Posted at 11:56 am by gUgUn
Monday, February 28, 2005
If Only There's Eternity


Kekasih, inikah waktu kita?

Merumpun dalam ladang hidup tak abadi. Ingatan tentangmu menenggelamkan keberadaanku. Adakah diriku mampu hantarkan kau ke nirwana? Lihat jejak-jejak tercecer oleh asa kita. Terhampar sepanjang jalan yang antarkan aku pada nyatamu. Detik yang kita hirup masihlah muda. Nyaris belum tercemar oleh hasrat menggila.

 

Kekasih, benarkah waktu telah menghampiri kita?

Keraguan masihlah bersemayam. Mengharu biru dalam hembusan angin malam. Kupandang rinai hujan basahi bumi. Berharap bahwa akulah yang basahi kalbumu. Senyap meruyak angan. Bukanlah gumaman rindu bawa dirimu. Melainkan persimpangan jalan nasib. Bilakah sejarahku tercatat? Ketika kelu ini nyata adanya. Semakin terhujam setiap kali jarak merentang.

 

Kekasih, akankah kau terjaga pada waktuku ini?

Kau demikian terlelap dalam ranjang abaimu. Bermimpi akan cinta terlalu.  Kupandang waktu kita yang kian mendekat. Coba gapai dirimu dalam kegelapan hatiku. Kutunggu kecupmu ketika beku membunuh nadir. Rapuh! Puriku hancur dihempas ego. Sayapku telah kau renggut. Tapi tak sehelai pun kurengkuh semestamu.

 

Kekasih, waktu telah memanggil kita

Aku mati ketika waktuku habis.

Kusulam kerlip bintang dalam hatimu. Agar tak lagi kau sendiri.

Kutitipkan sehelai kenang pada rahim waktu. Agar tergurat aku dalam ingatmu.

Kutiupkan ruhku padamu. Agar aku tetap hidup.

Padam dalam nyala.

 

Inikah saatnya kekasihku? Untuk menjadi milikmu utuh......

Posted at 05:45 pm by gUgUn